25 Juni

hujan menari-nari di punggung jalanan kota kecil yang senyap kala bulan sedang bersahaja. nyanyian kodok gempal memenuhi sunyinya kamar yang berpagar hamparan sawah menguning. sendunya hujan bulan juni sapardi menyelimuti suasana yang setengah hadir dan setengah gelisah. mataku terpejam, ragaku di bawa melayang bersama lantunan nada swara penyanyi maluku kediaman negeri kincir.

Hanya Abu-Abu

pangkal kakimu yang lembut berjalan lemah menuju lautan berwarna keemasan terbias api senja. dari tepian tebing aku menatap rambutmu yang terhempas angin dari selatan. ku kira, ada rintih yang tenggelam dalam debur ombak.

aku melihat banyak warna, dan hanya abu-abu yang mengalir dari matamu.

engkau menitipkan salam perpisahan pada langit merah, menyatu dengan Ibu. kicau burung menutup sakramen terakhir yang kau persembahkan. hanya tinggal aku yang terhanyut, dan engkau yang berbahagia.

 

Kepada Lara

telapak kakimu menyisakan bercak lumpur mengering, sehabis kau menari di bawah hujan sendu di halaman rumah. tampak dari raut wajahmu kesan tak rela akan perpisahan dengan hujan yang di bawa wajah pelangi.

aku membawakanmu secangkir kopi lintong, pasangan akur tembakau yang kau sesap dengan kurang nikmat. masih ada kah keraguan dalam benakmu ? kenapa tak kau hayati sorot mataku dalam bayang-bayang ?