Kelabu

lalu anak tua itu menjajakan keganjilan, sebuah pewartaan purnama. dia mendengar kegelapan dan melihat keriuhan diantara bayang langkah gemetar yang disoroti cahaya berpendar pudar. dia mengejar aliran darah seorang wanita yang mengering pada guratan nasib di telapak tangan. dia membisu, pangkal lidahnya membiru. dia tersedu, kulitnya meneteskan pilu. di balik matanya, terbias ribuan puisi yang di lumat kertas buram.

Penggoda Iman

kamu adalah gertakan tuhan terhadapku, terhadap imanku. sebahagian menamaimu keindahan, aku menamaimu siksaan, yang segera mencabik-cabik mimpiku dalam belenggu drama cinta yang kau mainkan.

berakhirlah romansa di tepian pulau gusung pandan, desahmu lenyap bersama rembulan yang jadi lentera tadi malam.

Kata Sepatah-sepatah

ada riuh bahasa dalam senandung aksara asing merangkak di sela gigimu, bahasa yang tersedak di keluh lidahmu.  jeritan kecil menenggelamkan puncak desibel ke butir keringatmu, melukis serat-serat  merah, lalu menjadi lebam. gelap meringkih mendengar amarah buas yang mengalir dalam nafas terengahmu.

aku menjelma iblis, menyeruput darah yang bertengger di bawah dagumu, menghujamkan bebatuan langit ke semestamu, yang menjadikan detik melaju semakin gila meninggalkan peradaban yang hendak ku bangun dalam dekap ruhmu.

kita menertawakan rembulan, dan berpaling muka pada mentari. kau yang hanya bisa mencintai angin, dan aku yang selalu lupa mengenang sejuk.

Orang Malam

bulan setengah wajahnya merah

bercerita mesra di pertengahan malam

yang engkau sendiri tak mendengarkan

sebab sunyi bagimu bukan kenikmatan

 

mungkin orang malam yang hanya paham jika sejatinya malam hanya perenungan

dan pemberitahuan atas ketakutan yang engkau sembunyikan

mungkin orang malam yang hanya paham jiwa sekedar hanya penderitaan

mungkin orang malam yang hanya paham hidup tak lebih dari sebuah penyesalan

 

ada yang terlelap sembari menabung air mata

ada yang terlelap sembari terjaga

aku yang terlelap dan tak ingin berlam-lama

malam yang terlelap dan jiwamu yang kembali hampa

Matilah Hari Ini

jika bukan hidup untuk hilang, maka demi apa engkau terkungkung di lembah fana ? sadar tak semata kebetulan, langkah yang menjadikannya hadir, membukakan pintu dari lorong sunyi yang kotor dan hina, yang jadi alasan bagimu mempertahankan angin sebagai pertanda keabadian yang tak akan pernah engkau gapai.

kita hanya sapuan debu, yang segera di hempaskan angin ke padang penantian, dimana aku adalah dirimu, dan kita tak mampu saling bertatap. jejak-jejak yang entah milik siapa jadi panduan bagi kita melalui gersang dan terik jalan, tanpa air, tanpa bantuan. hanya sepi yang mengalir dalam nadimu sedang bernyanyi, menatap sendu keriuhan dalam hening yang kita tak pernah mampu taklukkan.

rumahmu bertiang akar beringin, sulukmu berpintu lembaran papan yang masih basah oleh air mata istrimu, dan jubah mewah berwarna cerah yang kemudian pudar karena dosa-dosamu.

adakah satu orang saja yang punya jawaban perihal tujuanku ?

seakan sore bukan milikmu, dan senja enggan menyapa engkau yang telah terlelap di kursi goyang tua di serambi rumah, dan cangkir kopimu yang kembali penuh dialiri darah baumu, dan anak-anakmu yang bertanya kapan engkau bangun dalam ketidaktahuannya.

adakah satu orang saja yang punya jawaban perihal tujuanku ?

Merayakan Meraki

jogja dan kata-kata yang mengalir dari jiwamu

melampau segala nalar tanpa batas tabu

kita di kaki merapi menghayat romansa

kopi dingin pertanda rasa melebur alam

 

jogja dan mimpi yang kembali mempesona

sajian sederhana dan keakraban manis

penerimaan terbesar dan tawa lepas

jalanan menjadi sahabat

kalian menjelma nafasku

 

tiap sesapan tembakau

tiap keriuhan tanpa rencana

tiap aroma ketenangan

jogjaku, rumah kalian

bersenandung kita dalam tarian

merayakan meraki setelah permenungan

 

dan doa yang ku tinggalkan dekat jiwamu

 

meraki

meraki

 

bergeloralah dalam jiwa jawaku

meresaplah dalam kalbu mereka

alinea teduh dalam kisah khayalku

Cerita Buah-Buahan oleh Ibu

“Saat kalian kecil, setiap hari ibu membeli buah-buahan untuk kalian makan. Dari semua buah yang pernah kami beli, hanya pisang yang ayah dan ibu berani makan, hanya satu buah dari satu sisir, kami bagi berdua, sisanya kami haluskan untuk abang dan adek, satu orang satu buah. ibu dan ayah tak berani memakan apel, anggur, pear, jeruk, dan yang lain, karena itu hanya untuk kalian, untuk buah hati kami”

ini adalah cerita ibu di masa kecilku, yang telah ku dengar ratusan kali, dan menjadikanku sangat ingin bertemu Pencipta, mengajukan permohonan untuk melakukan barter atas sedikit pahala yang pernah dan akan aku perbuat, dengan segala dosa ibu yang pernah dicatatkan tentara-Nya.