Hanya Abu-Abu

pangkal kakimu yang lembut berjalan lemah menuju lautan berwarna keemasan terbias api senja. dari tepian tebing aku menatap rambutmu yang terhempas angin dari selatan. ku kira, ada rintih yang tenggelam dalam debur ombak.

aku melihat banyak warna, dan hanya abu-abu yang mengalir dari matamu.

engkau menitipkan salam perpisahan pada langit merah, menyatu dengan Ibu. kicau burung menutup sakramen terakhir yang kau persembahkan. hanya tinggal aku yang terhanyut, dan engkau yang berbahagia.

 

Kepada Lara

telapak kakimu menyisakan bercak lumpur mengering, sehabis kau menari di bawah hujan sendu di halaman rumah. tampak dari raut wajahmu kesan tak rela akan perpisahan dengan hujan yang di bawa wajah pelangi.

aku membawakanmu secangkir kopi lintong, pasangan akur tembakau yang kau sesap dengan kurang nikmat. masih ada kah keraguan dalam benakmu ? kenapa tak kau hayati sorot mataku dalam bayang-bayang ?

Akulah Rahwana

aku tak pernah begitu perduli jika engkau memilih bersama rama, sinta-ku. sungguh derita ini bukan tentang itu. walau kisah roman ini abadi dalam kepalsuan bibir para pandita di dataran ayodhya, biar tabahku di bacakan tatap yang tenggelam di pusaran matamu. sebab aku adalah rahwana, yang mengagungkan dzat-mu dalam darahku yang mengalir pada anak panah rama, lelaki yang memenjarakan ragamu dalam api yang fana.

Ruang

kamis sore nanti, aku menyediakan dunia di balik ruangan berpintu merah, tepat seperempat waktu menuju malam. biarkan aku memejamkan matamu dengan kecupan, dan membuatmu terjaga dalam fana. 

lupa sesaat, dalam diam kerinduan liat berteriak terbata-bata. di bawah rembulan, tubuhmu lembah ragaku. jiwaku, melambung di antara tanda tanyamu. 

Kelabu

lalu anak tua itu menjajakan keganjilan, sebuah pewartaan purnama. dia mendengar kegelapan dan melihat keriuhan diantara bayang langkah gemetar yang disoroti cahaya berpendar pudar. dia mengejar aliran darah seorang wanita yang mengering pada guratan nasib di telapak tangan. dia membisu, pangkal lidahnya membiru. dia tersedu, kulitnya meneteskan pilu. di balik matanya, terbias ribuan puisi yang di lumat kertas buram.

Penggoda Iman

kamu adalah gertakan tuhan terhadapku, terhadap imanku. sebahagian menamaimu keindahan, aku menamaimu siksaan, yang segera mencabik-cabik mimpiku dalam belenggu drama cinta yang kau mainkan.

berakhirlah romansa di tepian pulau gusung pandan, desahmu lenyap bersama rembulan yang jadi lentera tadi malam.