Cerita Buah-Buahan oleh Ibu

“Saat kalian kecil, setiap hari ibu membeli buah-buahan untuk kalian makan. Dari semua buah yang pernah kami beli, hanya pisang yang ayah dan ibu berani makan, hanya satu buah dari satu sisir, kami bagi berdua, sisanya kami haluskan untuk abang dan adek, satu orang satu buah. ibu dan ayah tak berani memakan apel, anggur, pear, jeruk, dan yang lain, karena itu hanya untuk kalian, untuk buah hati kami”

ini adalah cerita ibu di masa kecilku, yang telah ku dengar ratusan kali, dan menjadikanku sangat ingin bertemu Pencipta, mengajukan permohonan untuk melakukan barter atas sedikit pahala yang pernah dan akan aku perbuat, dengan segala dosa ibu yang pernah dicatatkan tentara-Nya.

 

 

Tarutung dan Beberapa Jam Sebelum Kelahiran

di satu malam pada minggu kedua bulan kambing gunung beberapa tahun sebelum reformasi, seorang pria yang gusar duduk di tepian parit kecil di depan ruang tunggu rumah bersalin. ia tidak duduk di kursi tunggu seperti  pria-pria lain yang menanti kelahiran anak mereka, sembari menyesap berbatang-batang gulungan tembakau dan bercengkrama dengan sesama calon bapak di sebelah mereka sekedar mengalihkan perasaan gelisah. ia berdiam , dan memandangi aliran air yang membuat lumut-lumut menari. mungkin ia sangat ingin bergabung dengan pria lain di ruang tunggu, namun ia tak berselera. benaknya di selimuti kekhawatiran tentang uang yang ia miliki, yang hanya sepersepuluh dari biaya persalinan anak pertamanya. mungkin saat itu kepalanya mendidih, bersuhu sama dengan lahar dalam kandungan dolok martimbang yang bersembunyi ribuan tahun.

setengah jam menuju tengah malam, ia masih bergumul dengan nominal rupiah yang belum ia mengerti dari mana akan ia dapatkan.

ia memberanikan diri meminta sebatang rokok dari seorang pria yang ia kenal, sekedar memperlambat laju darah di nadinya. bersamaan dengan kepulan asap yang ia turut sumbangkan di udara, tuhan memberi jawaban atas gulana yang telah berkutat di kepalanya beberapa hari sebelum kelahiran. dengan mata setengah basah, segera ia menyambangi mukzizat yang kuasa, sambil melantunkan dzikir lembut yang hanya dapat di dengar cahaya tak kasat mata yang mengiringinya menyusuri jalanan kota tarutung, dengan senyum dan air mata yang menghias raut wajahnya.

Yang Tertunda

Cinta ini bahkan bukan tentang asmara, kubiarkan ia mengalir dalam nadi. Aku berdiam , dan sunyi mengajarkan banyak hal. Darinya aku paham bahwa cinta adalah anugrah penuh kesucian, dan percintaan adalah perjalanan sakral yang mungkin tak semua manusia paham sepenuhnya. Petualangan penuh kenisbian itu memerintahkan untuk menikmatimu, menikmati foto-fotomu, yang ku simpan rapi di sebuah kotak coklat aluminium bergambar kincir agin. Itu adalah cara mencinta yang ku pilih.

Kotak coklat itu ku letakkan di sudut rak buku kecil di sebelah tempat tidur bersama dengan puisi-puisi tentangmu yang ku tulis pada lembar-lembar kertas kusut, yang tiap malam ku buka, lalu sesaat ku pandangi wajahmu di sana sebelum mengembara dalam lelap. Sesekali aku beranikan diri menghubungimu, menanyakan kabar jika rindu tak mampu ku bendung lagi. Sekedar balasan singkat darimu ternyata lebih dari cukup bagiku. Lalu sesekali aku tertidur dengan foto-foto itu, yang berisi wajah seorang gadis berjilbab ungu dengan senyum yang meneduhkan hati.

*

Masa lalu terlalu kejam untuk menampilkan diriku saat ini. Cinta ini terlalu gaib, yang jika manusia kini menganggapnya seperti imaji. Cinta yang ku simpan dalam tetes embun pagi ini, ku biarkan menguap bersama terik mentari hadir. Aku percaya angin menyampaikannya ke ujung langit dan Dia berkehendak atas segala sesuatu dalam hidup, sehingga aku tak perlu khawatir akan getir perasaan.

*

Di kota jauh, awal hidup yang ku jalani memang tidak baik. Aku melupakan banyak hal dalam kehidupan. Mungkin terlambat ataupun salah waktu, tapi Allah  ku percaya akan memberi kesempatan bagi kesungguhanku, yang ribuan kali tertunda. Sementara ini, aku hanya menikmati hal sederhana itu, yang ku jaga dan akan selalu.

Mungkin gelombang yang hadir tak terkira besar. Walau perahu yang ku kayuh berkali-kali singgah di pelabuhan yang bukan engkau, namun akhir perjalanan adalah dekapanmu, angan yang ku bangun megah di antara jarak gemintang. Kamu, bayang-bayang yang ku cipta perlahan, hingga kokoh berdiri menjulang dalam mimpi. Aku bahkan tak pernah bermimpi hal lain, hanya ada kisah-kisah berisikan tentang gadisku, yang masih jauh di penghujung samudera, yang ku tuju dan tempat perhentian ku hingga akhir hayat.

Aku mencintamu jutaan kali, yang sampai rintik hujan tak sebanding dengannya, yang hingga malaikat hapal namamu dari tiap doa-doaku, yang hingga jam dinding di ruang tamu rumahmu tak mampu menghitung, yang hingga sungai mengalir jauh tak mampu mengukur. Walau diri fana ini, mewujud ego raksasa yang selalu menyakitimu, walau bibir yang berlidah kelu ini berteriak kepalsuan-kepalsuan, namun tiada yang palsu dari cintaku, cinta yang ku perjuangkan dengan berbagai perang dalam hidupku, dan ku junjung hingga tetes-tetes keringatku mengering   -mengapur oleh siang terik yang tak kunjung menghadirkan malam, agar tetap suci dan jernih walau dalam raga hina ini.

*

Masa muda berlalu begitu cepat, aku hanya meninggalkan luka dan duka pada tiap lembarnya, namun ku simpan, ku bingkai di atas sujud dan permohonanku pada-Nya, kepada yang menguji betapa cinta ini sejati, dalam kotak yang ku buat dari sejuk dan kelemahan, yang menjadikannya lebih dari sekedar-sekedar, yang menjadikannya teguh, sembari aku menghakimi diriku pada tiap detik yang begitu saja berlalu pergi menjauh meninggalkan.

Hingga berhenti pada pencarian kosong, aku tak ingin kembali, mundur dan menapaki jejak-jejak pilu yang tertinggal. Aku ingin mengitari samsara ini, dan jikapun derita akan berabad-abad panjangnya, bukankah itu mulanya ? Yang menghantarkan daku kembali ke nirwana di sisimu, dan kita di sisi-Nya.

Perihal Nama

“lindungi daku, Ya Allah ku”

begitulah permintaan terakhir di penghujung gerbang menuju fana, sebagai mohon restu atas awal pengembaraan, lalu sebuah harapan datang padanya sehabis adzan di kumandangkan seorang pria tampan yang baru saja menyandang gelar bapak.

bersamaan jerit tangis anak itu, butir air mata sang ibu mengucur atas pertanda selesainya perih dan mula tumbuh sayap di punggungnya, pemberian untuk malaikat surga yang baru.

di sekitar ranjang kecil berlumur darah

semesta mengucapkan selamat datang

di iringi riuh-riuh suara tak terdengar lelaki tua dengan langkah tergopoh-gopoh, berteriak dengan nafas berat pertanda kedatangan yang tergesa-gesa. segera di mintanya si anak dari pelukan si bapak, di gendong dengan tangan kiri renta sementara tangan kanannya mengusap kepala si bayi setelah dilumuri liur ajaibnya dan diberi salawat dalamnya.

“kelak dia jadi pejabat”, ujar sang kakek yang tegas wajahnya berubah seketika menjadi menawan, menampilkan senyum yang jarang ia perlihatkan.

lalu doa-doa di panjatkan berbagai suara mengiringi langkah pengembara baru, memenuhi janji-janji dan mengarungi dunia yang tak pernah nyata.