Bukankah Bahagia Itu…

Aku ingin membasuh wajahmu dari debu berwarna yang sengaja engkau taburkan, lalu menggenggammu menuju cermin untuk menyaksikan kekuranganku, beserta kepingan kaca yang satu persatu ku lekatkan di sekujur raga dan bathinmu.

Bukankah bahagia itu engkau dan aku ?

Waktu dan langkah kita adalah huruf-huruf yang berpadu menyusun sebuah kisah perjuangan yang tak akan diterbitkan. 

25 Juni

hujan menari-nari di punggung jalanan kota kecil yang senyap kala bulan sedang bersahaja. nyanyian kodok gempal memenuhi sunyinya kamar yang berpagar hamparan sawah menguning. sendunya hujan bulan juni sapardi menyelimuti suasana yang setengah hadir dan setengah gelisah. mataku terpejam, ragaku di bawa melayang bersama lantunan nada swara penyanyi maluku kediaman negeri kincir.

Hanya Abu-Abu

pangkal kakimu yang lembut berjalan lemah menuju lautan berwarna keemasan terbias api senja. dari tepian tebing aku menatap rambutmu yang terhempas angin dari selatan. ku kira, ada rintih yang tenggelam dalam debur ombak.

aku melihat banyak warna, dan hanya abu-abu yang mengalir dari matamu.

engkau menitipkan salam perpisahan pada langit merah, menyatu dengan Ibu. kicau burung menutup sakramen terakhir yang kau persembahkan. hanya tinggal aku yang terhanyut, dan engkau yang berbahagia.