Bagaimana Bila Aku Kehilanganmu ?

kekasih….

bila suaramu hanya terdengar di antara sepoi-sepoi angin di tepian danau Toba sore hari,

pasang akan segera naik karena air mataku.

lalu tawa riangmu digantikan gemercik air yang menghantam batu padas di bawah kakiku,

entah aku masih mampu menulis sajak ini atau tidak.

bila saat itu telah tiba, kekasih…

bolehkan aku berdiam diri untuk sepanjang waktu yang ku punya,

di dalam gua kesedihan yang di bangun oleh jerit piluku ?

Samudera

apakah cintamu penuh dengan pemakluman ? jika tidak, mungkin hela nafasmu tak cukup dalam, kekasih. masihkah samudera hatimu cukup luas menampung butiran kesedihan ? atau perlahan telah kau timbun dengan hasrat buta ? tentangmu dalam lukisan di dinding ingatanku, adalah senyuman, yang senantiasa menyapa mentari pada langitku yang kelabu.

Senandung (mungkin) Sajak Roman

kepada ketidaksadaran

 

jangan lagi kau sekedar singgah

pada dunia hilang yang dibangun dari reka kejadian

kedatanganku,

mengulik jalan pintas menuju rangkaian memori

yang aku pernah hiraukan

 

cincin di jarimu, bukankah hanya hiasan ?

 

karena cintamu,

tak sekedar seutas logam kaku yang tak terikat pasti

 

bahwa cintamu,

adalah kesendirian yang kau harap ditemani

 

bahwa cintamu,

ialah keraguan yang kau pupuk jadi arti

 

bahwa cintamu,

hanyalah kesesatan

yang menjerumuskanku ke dalam labirin

tak berpenghujung

tak berpenantian

 

bahwa cintamu,

adalah kehendak-Nya

 

dan imanku,

besar bertumpu dalam doamu.

Seharusnya

:   –  dr.

 

haruskah ku jabarkan ratusan mimpi

dalam sedekap malam yang di perankan oleh wajahmu

–  bayangmu ?

 

diam tak menjadika apa-apa

sajakku pun tak berarti apa-apa

 

 

seharusnya tak ku tulis sajak ini

seharusnya kau tenang dalam imaji

seharusnya aku tak berhenti

menghayati

 

sampai bertemu dalam racau mabukku

rindu takkan pernah jadi rindu

 

Entah

Bagaimana caraku mencintaimu ?

Di antara melodi-melodi pagi yang dingin, dan burung kepodang emasku yang tak kunjung bernyanyi,  ribuan kata-kata tak beraturan seraya menggagahi.

Haruskah aku menista hati dengan menuliskannya pada selembar keheningan yang bersembunyi di tengah ramainya cinta yang mengejarmu ?

Atau mungkin, biar saja aku bertanya dalam abadi, bagaimana caraku mencintaimu ?

Bagaimana dengan Palestina ?

Tak cukupkah dengan Gaza ?

tanah Kanaan yang suci,

kalian nodai sendiri.

kini hingga Jerussalem

yang tenang digaduhkan

yang sunyi dipaksa menjerit

yang sembahyang dibuat merintih

Al-Aqsa bukan hama

hanya tempat bermula cahaya

atau Zion terngiang mimpi buruk

takut

karena adzan bersenandung

dan bergema hingga seluruh semenanjung

 

negeri yang ngeri

tanah yang merana

hanya dijajakan sebagai wacana