Senandung (mungkin) Sajak Roman

kepada ketidaksadaran

 

jangan lagi kau sekedar singgah

pada dunia hilang yang dibangun dari reka kejadian

kedatanganku,

mengulik jalan pintas menuju rangkaian memori

yang aku pernah hiraukan

 

cincin di jarimu, bukankah hanya hiasan ?

 

karena cintamu,

tak sekedar seutas logam kaku yang tak terikat pasti

 

bahwa cintamu,

adalah kesendirian yang kau harap ditemani

 

bahwa cintamu,

ialah keraguan yang kau pupuk jadi arti

 

bahwa cintamu,

hanyalah kesesatan

yang menjerumuskanku ke dalam labirin

tak berpenghujung

tak berpenantian

 

bahwa cintamu,

adalah kehendak-Nya

 

dan imanku,

besar bertumpu dalam doamu.

Wanita yang Menanti dalam Mimpi (1)

“aku hanya tak ingin berbicara dan membicarakannya, sayang. namun, aku juga tak mampu berdusta hingga sebegitu lamanya. aku menyerah, aku benar mencintaimu”

“namun, mengapa ? aku bertanya-tanya tentang waktu yang telah kau abaikan dengan gurauan palsu di hadapanku, seakan tak terjadi apa-apa”

“mungkin saja aku tak mampu, mungkin saja aku menikmati kebahagiaanmu tanpa diriku, mungkin saja….”

“kau pikir kemungkinan-kemungkinanmu itu dapat merubah keadaan ? merubah hatiku ?” selanya.

“aku tak berani mencoba” jawabku sembari menunduk, tak kuasa menatap matanya.

“sedang untuk berjuang saja kau tak berani, apalagi menghilangkan kekeliruan yang sudah berakar dalam di benakku tentangmu”

aku mulai mengingat kembali kejadian-kejadian yang ku bangun dalam peran yang seharusnya tak pernah dia saksikan, mengingat setiap kata yang tak sedikitpun ingin dia dengarkan, dan mengingat kembali diriku yang sesungguhnya tak pernah dia harapkan.

“kau telah sangat menyakitiku dengan perbuatanmu terhadap wanita-wanita itu. seharusnya kau tak perlu mengalihkan aku kepada mereka” katanya dengan mata berkaca-kaca.

aku hanya terdiam. hening menyelimuti keriuhan dalam jarak yang mampu ku dengar. hanya ada suaranya, yang seperti menyambar seluruh persendianku.

 

 

Seharusnya

:   –  dr.

 

haruskah ku jabarkan ratusan mimpi

dalam sedekap malam yang di perankan oleh wajahmu

–  bayangmu ?

 

diam tak menjadika apa-apa

sajakku pun tak berarti apa-apa

 

 

seharusnya tak ku tulis sajak ini

seharusnya kau tenang dalam imaji

seharusnya aku tak berhenti

menghayati

 

sampai bertemu dalam racau mabukku

rindu takkan pernah jadi rindu

 

Entah

Bagaimana caraku mencintaimu ?

Di antara melodi-melodi pagi yang dingin, dan burung kepodang emasku yang tak kunjung bernyanyi,  ribuan kata-kata tak beraturan seraya menggagahi.

Haruskah aku menista hati dengan menuliskannya pada selembar keheningan yang bersembunyi di tengah ramainya cinta yang mengejarmu ?

Atau mungkin, biar saja aku bertanya dalam abadi, bagaimana caraku mencintaimu ?

Bagaimana dengan Palestina ?

Tak cukupkah dengan Gaza ?

tanah Kanaan yang suci,

kalian nodai sendiri.

kini hingga Jerussalem

yang tenang digaduhkan

yang sunyi dipaksa menjerit

yang sembahyang dibuat merintih

Al-Aqsa bukan hama

hanya tempat bermula cahaya

atau Zion terngiang mimpi buruk

takut

karena adzan bersenandung

dan bergema hingga seluruh semenanjung

 

negeri yang ngeri

tanah yang merana

hanya dijajakan sebagai wacana