Kelabu

lalu anak tua itu menjajakan keganjilan, sebuah pewartaan purnama. dia mendengar kegelapan dan melihat keriuhan diantara bayang langkah gemetar yang disoroti cahaya berpendar pudar. dia mengejar aliran darah seorang wanita yang mengering pada guratan nasib di telapak tangan. dia membisu, pangkal lidahnya membiru. dia tersedu, kulitnya meneteskan pilu. di balik matanya, terbias ribuan puisi yang di lumat kertas buram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s