Kata Sepatah-sepatah

ada riuh bahasa dalam senandung aksara asing merangkak di sela gigimu, bahasa yang tersedak di keluh lidahmu.  jeritan kecil menenggelamkan puncak desibel ke butir keringatmu, melukis serat-serat  merah, lalu menjadi lebam. gelap meringkih mendengar amarah buas yang mengalir dalam nafas terengahmu.

aku menjelma iblis, menyeruput darah yang bertengger di bawah dagumu, menghujamkan bebatuan langit ke semestamu, yang menjadikan detik melaju semakin gila meninggalkan peradaban yang hendak ku bangun dalam dekap ruhmu.

kita menertawakan rembulan, dan berpaling muka pada mentari. kau yang hanya bisa mencintai angin, dan aku yang selalu lupa mengenang sejuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s