Tarutung dan Beberapa Jam Sebelum Kelahiran

di satu malam pada minggu kedua bulan kambing gunung beberapa tahun sebelum reformasi, seorang pria yang gusar duduk di tepian parit kecil di depan ruang tunggu rumah bersalin. ia tidak duduk di kursi tunggu seperti  pria-pria lain yang menanti kelahiran anak mereka, sembari menyesap berbatang-batang gulungan tembakau dan bercengkrama dengan sesama calon bapak di sebelah mereka sekedar mengalihkan perasaan gelisah. ia berdiam , dan memandangi aliran air yang membuat lumut-lumut menari. mungkin ia sangat ingin bergabung dengan pria lain di ruang tunggu, namun ia tak berselera. benaknya di selimuti kekhawatiran tentang uang yang ia miliki, yang hanya sepersepuluh dari biaya persalinan anak pertamanya. mungkin saat itu kepalanya mendidih, bersuhu sama dengan lahar dalam kandungan dolok martimbang yang bersembunyi ribuan tahun.

setengah jam menuju tengah malam, ia masih bergumul dengan nominal rupiah yang belum ia mengerti dari mana akan ia dapatkan.

ia memberanikan diri meminta sebatang rokok dari seorang pria yang ia kenal, sekedar memperlambat laju darah di nadinya. bersamaan dengan kepulan asap yang ia turut sumbangkan di udara, tuhan memberi jawaban atas gulana yang telah berkutat di kepalanya beberapa hari sebelum kelahiran. dengan mata setengah basah, segera ia menyambangi mukzizat yang kuasa, sambil melantunkan dzikir lembut yang hanya dapat di dengar cahaya tak kasat mata yang mengiringinya menyusuri jalanan kota tarutung, dengan senyum dan air mata yang menghias raut wajahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s