Sajak untuk Angin Sejuk

1.

Tahun-tahun berlalu, aku menghitung jarak bukan waktu, sebab tak ada jeda pada detik jam saat merindu. Dan aku kagum pada Tuhan, yang menghadirkan engkau saat bayangmu mulai tampak samar di timbunan asa-asa yang ku simpan pada salah satu bilik di persimpangan ingatan.

 

2.

Dengan beberapa upaya, pada selembar tissue kecil aku menggambarkan engkau yang mengalir sejuk sepanjang sore, menuliskan kata-kata, bertinta kenangan yang entah senja masih mengingatnya atau tidak.

*

Aku membisu dalam riuh suara-suara, menjelma kata-kata yang terpahat pada langit senja yang engkau lupa nikmati terkadang, sedang aku setia menanti bersama secangkir kopi yang dimaniskan nostalgia.

*

Sajak ini berisi huruf-huruf timbul-tenggelam, yang tertanam di bawah pelepah daun kelapa kecil tepat di bawah kamarmu, yang kusambangi tiap fajar dan ku titipi salam yang mungkin tak pernah sampai.

*

Kata-kata sulit berhenti, jika tak berkenan, salahkan hati. Ketidakberkenanan itu hanya rasa takut tentang hal-hal yang tak ingin kau selami, sebab kau tak menghendaki kebenaran bahwa cinta memang memiliki bab perihal luka, duka, dan pilu dalam kisah yang tak dapat dijabarkan nalar.

 

3.

Mungkin kau sudah lupa aroma hujan yang lembut dihantarkan rerumputan, namun aku tinggalkan sebuah cerita padanya tentang angin sejuk yang membawa wewangian sore hingga ke hidung penyamun senja.

 

4.

Aku teringat malam saat hujan deras itu, kau menangis dan amarah tampak pada sorot mata sembabmu. Sejak itu aku mengubur dalam sendu yang tak seorangpun tahu, bahkan mungkin engkau.

 

Dingin menjadikan seisi ruangan senyap, aku mendengar suara isak kecil dan nafas sesakmu. Entahlah, mungkin aku tak terlalu lihai perihal memahami isi hati.

 

*

Malam berakhir bersama dengan imaji yang telah kubangun ratusan hari.

 

5.

Kau adalah sebuah rangkuman kalimat-kalimat sejuk dalam jurnal perjalananku, entah kisah roman atau misteri, tapi seakan lebih nihil dari kisah Rahvana.

 

6.

Engkau tahu aku melangkah menuju esok hari, bukan kemarin, dan yang lalu adalah sebuah kisah, bukan sebuah ketetapan.

 

7.

Gelap menuju timur, hanya tersisa warna pipimu yang berona kemerah-merahan, sama seperti saat senja membakar langit dengan ucapan selamat tinggal dari ufuk barat, dan aku masih tetap berangan-angan tetang kau yang merupa ilusi.

 

8.

Sebuah rahasia ku sisipkan dalam sajak ini, pada jarak antar kalimat yang bersembunyi di untaian serat kertas yang takkan ada yang mampu membaca.

Puisi bukan untuk di mengerti sepertinya. Biarkan dirimu tenggelam, menikmati basuhan kata-kata yang menghanyutkan ke dalam semesta di balik persepsi ambigu yang tak sampai dijangkau mata.

 

9.

Selamat mengalir angin sejuk, bawakan aku yang tak pernah di janjikan fana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s