Di Hadapan Gunung Fuji

Asakusa pagi hari menyajikan molek Fuji. Di serambi penginapan, ditemani kisah Kabusecha yang hidup dalam bayangan, dalam aroma yang membeku sebelum sampai pada penghirupanku.

Kota yang sepi, tak banyak kerumunan, tak terlihat hilir-mudik, waktu berjalan tenang dan mesra, sesekali lewat mobil pick up menjajakan ubi bakar, dan anak-anak kecil dengan rapi berbaris di belakang garis kuning halte bis, tanpa ada satupun yang terlihat gusar.

Keadaan pagi yang tenang menjadi pemicu pertengkarangku dengan eksistensi, yang telah ku pasung di sebuah lubuk jauh dan tak pernah ku hiraukan, walau suaranya yang bising, memintaku berdamai dengannya di setiap detik yang tak pernah berhenti.

Lalu aku mempertanyakan keadilan kepada diri.

“Aku hanya ingin menikmati suasana yang telah meresap dalam pada pusaran retinamu”, jawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s