Yang Tertunda

Cinta ini bahkan bukan tentang asmara, kubiarkan ia mengalir dalam nadi. Aku berdiam , dan sunyi mengajarkan banyak hal. Darinya aku paham bahwa cinta adalah anugrah penuh kesucian, dan percintaan adalah perjalanan sakral yang mungkin tak semua manusia paham sepenuhnya. Petualangan penuh kenisbian itu memerintahkan untuk menikmatimu, menikmati foto-fotomu, yang ku simpan rapi di sebuah kotak coklat aluminium bergambar kincir agin. Itu adalah cara mencinta yang ku pilih.

Kotak coklat itu ku letakkan di sudut rak buku kecil di sebelah tempat tidur bersama dengan puisi-puisi tentangmu yang ku tulis pada lembar-lembar kertas kusut, yang tiap malam ku buka, lalu sesaat ku pandangi wajahmu di sana sebelum mengembara dalam lelap. Sesekali aku beranikan diri menghubungimu, menanyakan kabar jika rindu tak mampu ku bendung lagi. Sekedar balasan singkat darimu ternyata lebih dari cukup bagiku. Lalu sesekali aku tertidur dengan foto-foto itu, yang berisi wajah seorang gadis berjilbab ungu dengan senyum yang meneduhkan hati.

*

Masa lalu terlalu kejam untuk menampilkan diriku saat ini. Cinta ini terlalu gaib, yang jika manusia kini menganggapnya seperti imaji. Cinta yang ku simpan dalam tetes embun pagi ini, ku biarkan menguap bersama terik mentari hadir. Aku percaya angin menyampaikannya ke ujung langit dan Dia berkehendak atas segala sesuatu dalam hidup, sehingga aku tak perlu khawatir akan getir perasaan.

*

Di kota jauh, awal hidup yang ku jalani memang tidak baik. Aku melupakan banyak hal dalam kehidupan. Mungkin terlambat ataupun salah waktu, tapi Allah  ku percaya akan memberi kesempatan bagi kesungguhanku, yang ribuan kali tertunda. Sementara ini, aku hanya menikmati hal sederhana itu, yang ku jaga dan akan selalu.

Mungkin gelombang yang hadir tak terkira besar. Walau perahu yang ku kayuh berkali-kali singgah di pelabuhan yang bukan engkau, namun akhir perjalanan adalah dekapanmu, angan yang ku bangun megah di antara jarak gemintang. Kamu, bayang-bayang yang ku cipta perlahan, hingga kokoh berdiri menjulang dalam mimpi. Aku bahkan tak pernah bermimpi hal lain, hanya ada kisah-kisah berisikan tentang gadisku, yang masih jauh di penghujung samudera, yang ku tuju dan tempat perhentian ku hingga akhir hayat.

Aku mencintamu jutaan kali, yang sampai rintik hujan tak sebanding dengannya, yang hingga malaikat hapal namamu dari tiap doa-doaku, yang hingga jam dinding di ruang tamu rumahmu tak mampu menghitung, yang hingga sungai mengalir jauh tak mampu mengukur. Walau diri fana ini, mewujud ego raksasa yang selalu menyakitimu, walau bibir yang berlidah kelu ini berteriak kepalsuan-kepalsuan, namun tiada yang palsu dari cintaku, cinta yang ku perjuangkan dengan berbagai perang dalam hidupku, dan ku junjung hingga tetes-tetes keringatku mengering   -mengapur oleh siang terik yang tak kunjung menghadirkan malam, agar tetap suci dan jernih walau dalam raga hina ini.

*

Masa muda berlalu begitu cepat, aku hanya meninggalkan luka dan duka pada tiap lembarnya, namun ku simpan, ku bingkai di atas sujud dan permohonanku pada-Nya, kepada yang menguji betapa cinta ini sejati, dalam kotak yang ku buat dari sejuk dan kelemahan, yang menjadikannya lebih dari sekedar-sekedar, yang menjadikannya teguh, sembari aku menghakimi diriku pada tiap detik yang begitu saja berlalu pergi menjauh meninggalkan.

Hingga berhenti pada pencarian kosong, aku tak ingin kembali, mundur dan menapaki jejak-jejak pilu yang tertinggal. Aku ingin mengitari samsara ini, dan jikapun derita akan berabad-abad panjangnya, bukankah itu mulanya ? Yang menghantarkan daku kembali ke nirwana di sisimu, dan kita di sisi-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s