Siapa Yang Menghendakinya ?

Aku berjalan di bawah tarian hujan dan deru angin tenang, menikmat langkah yang ku pijakkan pada lantai rumah derita, menuju sebuah warung, untuk kembali belajar menikmati sesuap makanan, (seperti yang engkau lakukan).

Aku lupa banyak simfoni di luar ruangan, seperti merebah kaki di atas rerumputan basah, bergumul dengan tetes-tetes berkah malam, dan bercengkrama dengan kubangan air di sepanjang pinggir jalan beraspal.

*

Aku tak suka jika bathin hadir di antara percakapan beda langit kita. (aku tak punya persiapan).

Jika waktu merubah tenang, entah kapan (menjadi tak terbendung), mungkin harus melakukan revisi, merajut skenario baru yang tak menyebabkan sore yang berbeda ini menjadi sendu.

*

Mungkin sesaat akan berubah, entah perilaku atau gaya bicara. (siapa yang menghendakinya?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s