Di Negriku

di negriku,

tampaklah emas-emas dipecah dari bongkah batu

yang jadi angan dalam harapan buruh kecil Timika

untuk biaya bersekolah anaknya .

 

di negriku,

tampaklah timah-timah mengubang.

kerukan-kerukan untuknya

tampak seperti bisul-bisul kecil dari angkasa,

yang di kisah ramaikan oleh orang-orang Belitung

kelak bekal anaknya kuliah di kota.
di negriku,

tampaklah getah-getah karet menggumpal

ditumpuk-tumpuk oleh kesabaran orang desa Sumatera,

demi masa depan buah hati mereka.

 

di negriku,

tampaklah kapur-kapur belerang

di bopong mengayun-ayun lelaki tua di gunung Welirang

pada pundak luka besetan penyangga bambu,

yang mengering oleh harap bisa makan.

 

di negriku,

tampaklah perak-perak di gempur jadi hiasan

oleh pria bertapak tangan kasar di Jogja,

agar sedikit nafkah bisa dibawa pulang.

 

di negriku,

tampaklah batang kayu di pahat seniman Bali

menjadi patung,

lantas dijual untuk membeli sesajen

dan sebahagian melunasi hutang-hutangnya.

 

di negriku,

tampaklah batu bara

di kemas pada sak-sak kertas tebal

oleh pria-pria Banjar,

yang lekas jadi biaya obat atas sakit bininya.

 

di negriku,

tampaklah tuna-tuna di timbang nelayan Sumba,

sebagai modal beli solar

untuk mesin kapal melaut esok jika tak pasang.

 

di negriku,

tampaklah duka-duka

dan kelaparan pada tiap persimpangan,

dan zaman menyisihkan mereka,

menempatkannya pada bau-bau kematian.

 

di negriku,

tampaklah lelaki berstelan jas mahal

berkendara mobil Eropa,

cincin berliannya pertanda kasta,

entah mungkin perjuangan,

yang di siarkan omong kosong media.

 

di negriku,

tampaklah sarjana-sarjana

pengangguran,

entah dimana letak kesalahan,

pastinya tak ada tempat mereka berjuang.

 

di negriku,

tampaklah senjangnya harta

di balik hunian megah bermilyar-milyar rupiah,

dan pemulung

tinggal di gubuk 3×4 meter di belakangnya.

 

di negriku,

tampaklah anak muda mabuk-mabukan,

bercanda tentang ketidaktahuan

dan perih luka hidup.

 

di negriku,

yang tak punya tak bisa berbuat apa.

menanti berkah yang dapat memberi senyum

pada bibir kering pecah-pecah pengemis

yang buntung kakinya karena kusta.

 

di negriku,

banyaklah seperti aku

yang berbicara lewat pena

dan bersuara dalam cerita,

lalu segera di hujam cacian

dan mungkin di nanti penjara,

karena ngobrolin penguasa.

 

di negriku,

aku takut bahagia dan gemar meratap,

mendengar Indonesia Raya

yang seakan kepalsuan

dalam ode suka cita semu belaka.

 

di negriku,

aku tak dapat punya jiwa,

di paksa cari dunia hingga akhir usia

demi kebutuhan yang melunjak tiap tahunnya.

 

di negriku,

Ibu Pertiwi dan aku

pilu mendengar rintihan-rintihan para penantang ajal

yang buncit perutnya dan kaki bernanah,

menanti kepastian dan bantuan yang tak kunjung datang.

 

di negriku,

haruslah berdusta

agar di kenal dan terima uang,

walau terjebak dalam rasa terhina

sebab tak punya.

 

di negriku,

aku tak bisa menemukan aku.

aku tak bisa menjadi aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s