Bagaimana dengan Palestina ?

Tak cukupkah dengan Gaza ?

tanah Kanaan yang suci,

kalian nodai sendiri.

kini hingga Jerussalem

yang tenang digaduhkan

yang sunyi dipaksa menjerit

yang sembahyang dibuat merintih

Al-Aqsa bukan hama

hanya tempat bermula cahaya

atau Zion terngiang mimpi buruk

takut

karena adzan bersenandung

dan bergema hingga seluruh semenanjung

 

negeri yang ngeri

tanah yang merana

hanya dijajakan sebagai wacana

Puzzle

Aku tak ingin bermain puzzle hatimu, yg telah kehilangan kepingan. Aku ingin mensedekahkan keping hatiku, agar engkau dapat mengisi kosongmu dari jiwaku, dan aku hanya memandu. 

Bukankah Bahagia Itu…

Aku ingin membasuh wajahmu dari debu berwarna yang sengaja engkau taburkan, lalu menggenggammu menuju cermin untuk menyaksikan kekuranganku, beserta kepingan kaca yang satu persatu ku lekatkan di sekujur raga dan bathinmu.

Bukankah bahagia itu engkau dan aku ?

Waktu dan langkah kita adalah huruf-huruf yang berpadu menyusun sebuah kisah perjuangan yang tak akan diterbitkan. 

25 Juni

hujan menari-nari di punggung jalanan kota kecil yang senyap kala bulan sedang bersahaja. nyanyian kodok gempal memenuhi sunyinya kamar yang berpagar hamparan sawah menguning. sendunya hujan bulan juni sapardi menyelimuti suasana yang setengah hadir dan setengah gelisah. mataku terpejam, ragaku di bawa melayang bersama lantunan nada swara penyanyi maluku kediaman negeri kincir.